Rabu, 01 Juli 2009

Depok, Alay City

Sungguh menyedihkan dan menyebalkan untuk berbicara tentang realita masa depan bangsa yang seperti ini, percuma pemerintah membicarakan tentang pendidikan karena belum tentu mentri-mentri yang bersangkutan melaksanakan tugasnya, kebanyakan mereka malah berhura-hura dengan hartanya, membelikan apa saja yang di mau anaknya, Xbox, TV Plasma, 100juta buat nyogok kuliah, dan lain-lain. Dan belum tentu juga anak bangsa yang katanya di perhatiin itu, perhatian juga dengan fasilitas yang diberikan kepada mereka.

Gue males ngomongin tentang anak mentri yang suka hura-hura itu, tapi gue juga sebenernya males ngomongin tentang anak alay karena mereka sungguh pengganggu. Setiap malam kerjaannya nongkrong di depan rumah orang, ketawa gak jelas, maen gitar dan nyanyi dengan suara yang gak harmonis, dan ngerusak fasilitas yang ada. Mending deh kalo mereka bayar tempat gitu, ini udah gak bayar, songong-songong pula padahal miskin.

Gue pernah ngebandingin antara Plaza Indonesia dan Margo City. Yang paling kontras diantara 2 mall itu adalah pengunjung yang datang. Orang yang jalan-jalan di dalam PI itu gak banyak karena kebanyakan orang tu pada makan atau nongkrong di Starbuck, wah..sumpah disana gue yang ngerasa jadi alay. Beda dengan di Margo, yang nongkrong di Starbuck tu jarang banget ada, kebanyakan orang nangkring di pager pembatas buat ngeliat panggung dibawah yang gak ada siapa-siapa.

Dan setelah kejadian itu, jujur gue malu jadi orang Depok karena penduduknya begini nih adanya. Ya walaupun gue bukan orang yang kaya, atau mungkin selevel dengan anak alay itu, tapi paling gak gue hidup bukan untuk ngeganggu orang.

Gak semua orang ditakdirin jadi orang kaya, tapi hikmah yang bisa kita ambil disini adalah tentang memberi kenyamanan terhadap orang disekitar kita. Buatlah orang menjadi bahagia di dekat anda, itu lah fungsi anda ada di dunia ini.





0 komentar:

Poskan Komentar

 

blogger templates | Make Money Online