Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

My Life and Rachmaninoff: Pianoconcerto no.2 op.18

Pertama saya ceritain dulu ya sedikit tentang background bro Rachman buat lagu ini. Tahun 1897 doi nampilin Pianoconcerto pertamanya, tapi menuai banyak kritik, bisa dibilang orang-orang pada gak suka lah sama lagunya. Kegagalan itu ngebuat bro Rachman jadi super depresi dan kehilangan confident untuk ngompos lagu. Sampai akhirnya dia harus dirawat sama psychoterapist. Nah! Dia baru sembuh tahun 1900, kepercayaan dirinya bangkit dan dia berhasil buat lagu Pianoconcerto No. 2 yang jadi masterpiece nya ini.

Sebagai orang yang sering gagal, saya bisa ngerasain banget apa yang dirasain bro Rachman ini. Kehilangan confident ngebuat saya jadi gak berani ngapa-ngapain, ide gak muncul, dan waktu kebuang begitu aja. Saya cuma bisa diem doank di kamar, marah gak bisa dan sedih juga gak bisa. Bener-bener serasa ada di dasar jurang yang paling dalam dan gak ada apa-apa disana.

But well, I'm happy I've ever had that experience. Ngebayangin kondisi saya ketika gagal dulu justru ngemotivasi saya untuk selalu bangkit. Sekarang bisa dibilang saya adalah orang yang kebal sama kegagalan. Saya gak takut ngelakuin sesuatu yang baru, bahkan meskipun saya sudah tau kalo itu bakal gagal, saya tetep lakuin, karena kegagalan udah jadi hal yang biasa banget.

Dan terakhir, saya terus mencoba, saya terus mencoba, dan saya yakin suatu saat bakal menciptakan sesuatu yang menjadi masterpiece buat hidup saya. That's the reason why I never stop. I believe in Rachmaninoff.

Enjoy the music!
Rachmaninoff: Pianoconcerto no.2 op.18

Kamis, 13 Maret 2014

Daily Life

source: german--courses.com

Hari ini ngapain aja? Pertanyaan itu selalu ada dibenak saya setiap pagi. Selain kuliah/kerja dan ngumpul sama temen, kalo sendiri ngapain aja? Sangking risihnya dengan pertanyaan itu setiap hari, saya akhirnya ngebuat target harian saya. Terpaksa dan rada maksa sih tapi mau gak mau saya buat supaya hari-hari saya lebih produktif dan gak sia-sia. Ada dua hal fokus hidup saya sehari-hari, yaitu Bisnis dan Musik.

Bisnis, setiap hari  saya selalu ngecek progres bisnis saya di facebook dan twitter. Selain ngepost-ngepost, saya juga nyari info buat ngiklan di social media itu. Meski masih gagal tapi ntah kenapa saya gak bosen-bosen ngerjainnya XD

Musik, ada dua hal kegiatan sehari-hari saya di bidang ini. Pertama, latihan biola. Latihan lagu-lagu klasik yang udah ada partiturnya atau nebak lagu pop yang saya suka supaya ngelatih insting. Kedua, composing atau ngaransemen ulang lagu. Pada realitanya saya gak bisa bertahan lama ngelakuin ini, karena masih belum bakat dan susah nyari mood nya haha..

Sebenernya masih ada lagi yang ingin jadi fokus saya, yaitu programming dan catur. Gokil ya, tapi itu belom dapet banget feel nya, jadi masih sekedar wacana aja saya mau belajar di bidang itu XD

Bukan maksud apa-apa sih ngebuat rule kayak gini, tapi sekedar pengen ngebuat hari-hari saya jadi lebih produktif aja.

What's your daily routinity?

Rabu, 31 Oktober 2012

Should I Quit Music?

Sudah tujuh tahun saya berada di dunia musik, enam tahun di gitar dan satu tahun di biola. Banyak yang bilang saya mempunyai skill yang hebat dalam bermain gitar, tapi semua itu percuma karena saya memiliki kelemahan yang sangat fatal.

Saya terinspirasi dari Yngwie Malmsteen dan Michael Angelo Batio, saya suka mengikuti permainan cepat dan aroma neo classical yang mereka mainkan.

Lalu saya tersadar, karena asik bermain di level advance, malah lupa hal-hal super dasar di musik. Saya tidak bisa menebak chord dan nada!

Saya depresi dan mulai menyerah, akhirnya saya berhenti di gitar dan mencoba bermain biola. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Suara biola benar-benar jauh lebih indah, saya mulai jatuh cinta dengan biola.

Saya bisa lebih berimprovisasi, saya bisa memainkan banyak scale: A, C, D, E, F, dan G. Tapi bertemu lagi dengan masalah masa lalu, meski tidak terlalu terhambat dengan chord, saya tetap tidak bisa menebak nada. Berkali-kali saya latihan, tetap saja nihil, saat itu saya merasa musik sungguh menyebalkan.

Dari situ saya sadar, meski sudah berusaha selama tujuh tahun tapi saya tidak berbakat di musik. Should I quit music?

Minggu, 28 Oktober 2012

Hari Sumpah Pemuda dan First Stage

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari Sumpah Pemuda, hari lahirnya Indonesia. Semoga Indonesia menjadi lebih solid dan kuat lagi.

Honestly, gak ada hal yang spesial hari ini tapi saya mau ber-flashback ria mengingat hal apa yang pernah terjadi pada tanggal 28 Oktober.

Yap! Ketebak! Bisa dilihat dijudul ya, pada tanggal 28 Oktober 2007 adalah hari pertama saya manggung, skill yang masih pas-pas an tapi saya mainin lagu Mr. Big. Hell Yes!!

Oke berikut adalah 2 lagu pertama saya diatas panggung, lagu nya asik dan so sweet banget deh pokoknya. Check it out!

Mr. Big - Daddy Brother


Mr. Big - Green Tinted Sixties Mind


Senin, 16 April 2012

Klasik, Komunitas Biola, dan Antrian Tiket Orchestra ITB


Postingan saya kali ini bukan lah tulisan yang terlalu bermanfaat tapi entah kenapa saya merasa harus menulisnya. Mungkin karena perasaan senang yang luar biasa dalam diri saya yang membuat hasrat untuk menulis ini bertambah.

Ketertarikan saya dengan dunia musik klasik bukan lah baru, tetapi saya baru menjadi pemain musik klasik (biola) sekitar 5 bulan yang lalu, itu pun intensif latihannya baru 2 bulan ini. Akhirnya saya bersama teman-teman yang tertarik ddengan alat musik biola segera membuat komunitasnya, yang baru dibentuk tanggal 1 April 2012 kemarin.

Nah, dari komunitas itu lah jaringan pertemanan saya bertambah, sampai akhirnya saya mendapatkan informasi mengenai konser orchestra yang diadakan oleh ITB Student Orchestra tanggal 21 April 2012 nanti.

Hari ini, 16 April 2012, saya datang ke ITB untuk membeli tiket pertunjukkan tersebut, ticketing dibuka jam 12.30, saya datang tepat waktu, tapi nomor urut yang saya dapatkan adalah 88. Saya masih tetap on-fire untuk mengantri meskipun yang dipanggil masih nomor 27.

Selama mengantri, saya mendapat teman bicara yaitu anak fisika ITB angkatan 2008, saya bertanya mengenai konsep komunitas dan organisasi ITB Student Orchestra disana, banyak informasi yang didapat dan bisa diaplikasikan di komunitas biola saya.

Tak terasa sudah satu jam berlalu tapi masih nomor urut 40an, semangat pun sudah mulai turun, ditambah lagi tiket untuk shift malam sudah sold out, untungnya saya sudah rencana dari awal untuk membeli tiket siang.

Terus menunggu sambil cuci mata, melihat beberapa mahasiswi ITB yang menarik perhatian saya, muka mupeng, ileran. Tiba-tiba disadarkan oleh anak fisika ITB tersebut, dia memberikan saya tiket nomor antrian 54, wow! Dia bilang dia sudah dibelikan tiket oleh temannya jadi tidak perlu mengantri lagi, dan gak pake lama saya sudah memegang tiket orchestra "Da Capo" tersebut.

Perasaan senang ini sangat jarang saya alami, I feel so YES today! Sepanjang perjalan pulang dari ITB menuju kampung Dayeuhkolot, Bandung, Saya terus tersenyum bahagia setelah mendapatkan dream ticket ini.

What a Happiness !

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cinta itu Seperti Lagu


Ketika kita baru mendengar sebuah lagu, kadang kita langsung menyukainya, kadang biasa-biasa aja, malah terkadang juga sangat benci. Sama seperti ketika kita bertemu seseorang yang baru dikenal.

Bila kita baru pertama bertemu seseorang dan ternyata kok orang itu terus nyangkut bergelantungan (emangnya monyet) di hati, itu lah yang disebut love in the first shit (baca: sight). Sama seperti lagu yang kita baru dengar dan langsung menyukainya, terus didengar setiap hari setiap saat, eh baru seminggu dengerin udah bosen. Cinta juga bisa seperti itu, terpikat pada pandangan pertama, cari fotonya dan memandangi setiap saat, menjadi stalker-nya, update info tentang doi, dan bisa saja setelah itu kita langsung bosen sebosen-bosennya sama dia.

Ada juga lagu yang sekali denger sudah terlanjur benci, hina, dan dengki. Baru diputer di radio, langsung diganti. Baru muncul di acara TV Dah*syat, langsung dimatiin. Baru juga ini, langsung itu. Baru juga itu, langsung ini (apaan sih?). Sama juga seperti cinta, yang awalnya kita sungguh benci melihat muka si doi, benar-benar benci. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa benci itu bertranformasi menjadi cinta.

Itu lah lagu (baca: cinta), ada yang awalnya kita suka eh ujung-ujungnya bosen, ada yang awalnya benci eh ujung-ujungnya demen.

Tapi ada juga lagu yang terus disukai dari awal muncul sampai ke dekade-dekade berikutnya, lagu yang bisa dibilang sebagai everlasting song. Oleh karena itu, saya percaya kalau everlasting love itu ada.

Jumat, 03 September 2010

Song Maker Sofware

I play music for six years, practice once a week, and appeared in several cafes to entertain people who were eating. As a musician, performing in public is a matter of great pride. But the highest dreams of a musician is the song that he created is listened by all of the world.

Problem in creating the song is very complex, especially in the recording process. But some time ago my friend gave me a software to make music that we dream. It is a notation software named Forte.

Feature that is available is overwhelming, such as notation, sequencing, transpose, midi in & out, and many more. That all features really helped me in making a song. My dream now is not too far away to be reached.