Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Krisis Kepemimpinan

Krisis kepemimpinan, itu lah kondisi yang masih terjadi di negara ini. Pemimpin terakhir yang saya rasa punya kualitas bagus adalah Pak Soekarno dan Pak Soeharto, they're both my favourite leader, after the great Muhammad off course.

Kenapa saya menulis ini adalah karena kasus yang terjadi di Batam yang (katanya) disebabkan oleh kepimpinan TNI-Polri yang kurang baik. Padahal kita tahu bahwa dua organisasi tersebut adalah organisasi yang sangat mementingkan Disiplin dan Kepemimpinan. Bukan bermaksud mendiskreditkan mereka, tapi selama ini saya pikir mereka sudah melakukan yang terbaik.

Yang jadi masalah adalah bagaimana dengan organisasi/perusahaan lain? Yang hanya fokus ke Produk atau Jasa? Yang hanya berorientasi kepada Keuntungan?

TNI/Polri saja tetap punya kelemahan dalam Leadership, apalagi Perusahaan lain?

Kenapa Indonesia kurang punya banyak Pemimpin yang berkualitas? Apa karena kapasitas kita yang kurang? Apa karena sistem pendidikan yang salah?

I still don't have the answer.

sumber gambar: www.afr.com

Kamis, 26 Juni 2014

My Failure Story


Dari beberapa postingan sebelumnya saya sering bilang saya adalah orang gagal. Kegagalan kayak gimana sih yang saya rasain? Ya gak pait-pait banget sih, tapi lumayan sering aja, sekarang bakal coba saya ceritain lebih detail.

Sewaktu SMA kelas 2 saya terpilih sebagai ketua MPK, sekaligus juga sebagai ketua teater. Awal-awalnya rajin rapat tiap minggu sehabis pulang sekolah, tapi yaudah gitu aja, bertahan cuma sebulan abis itu saya udah lupa saya adalah ketua organisasi-organisasi tersebut haha..

Lalu pada tahun pertama kuliah saya join komunitas pecinta jepang, saya diamanahkan sebagai koordinator divisi budaya dimana saya bertanggung jawab untuk menyebarkan virus budaya jepang ke kampus saya. Selama satu tahun kerjaan saya ya cuma rapat divisi aja dan gak ada result sama sekali.

At least ada perkembangan ya, waktu SMA rapatnya sebulan tapi pas kuliah bisa konsisten rapat selama setahun hahaha..Setelah itu saya terus belajar leadership&organisasi secara teori, saya tiap hari ke perpus, membaca buku dan nyatet semua hal pentingnya. Sampai saya cukup percaya diri untuk nyoba jadi pemimpin lagi. Namun ternyata kehancuran saya belum selesai sampai disitu.

Kegagalan terbesar saya adalah ketika saya memimpin kepanitiaan untuk event music jepang di bandung. Awalnya rencana saya berjalan lancar, pembuatan proposal dalam 1 hari (jumat) dan print 20 proposal dalam 2 hari (sabtu-minggu), dan hari senin kami sudah bisa gerak untuk mencari sponsor. Berbagai rapat sudah dijalani, konsep+desain+rundown+venue+guest star+semuanya secara detail sudah direncanakan. Itu berlangsung selama 2-3bulan. Namun gak ada satu perusahaan yang tertarik untuk sponsorin acara saya. Akhirnya dengan berat hati kepanitiaan itu saya bubarkan.

Sedih, kesel, marah, dan malu semuanya jadi satu. Saya yang sudah yakin dengan ilmu kepemimpinan yang saya pelajari ternyata masih jauh dari kata hebat. Saat menulis ini pun saya masih bisa ngerasain sakitnya dari kejadian itu.

Udah gitu aja deh, gak tau mau nulis apa lagi :(

Bersambung (...)

Source Gambar: www.agentlerebellion.com

Rabu, 21 Mei 2014

3 Alat Ukur Kualitas Seorang Pria

source: www.dhgate.com

Menjadi pria yang berkualitas emang gak gampang sih, tapi sebenernya semua pria bisa jadi berkualitas kalo emang dia mau. Yang lebih ngeselin lagi, si pria itu ngerasa udah berkualitas, padahal belum ada yang mengakui itu, termasuk sahabat terdekatnya. Well, saya pun masih jauh dari kata pria berkualitas, tapi saya punya beberapa pemikiran yang lumayan menarik untuk dishare.

Kharisma
Definisi secara psikologis, sosiologis, atau yang lainnya bisa dicari sendiri ya di google. Saya coba bantu mendefinisikan kharisma ini dengan bahasa yang levelnya lebih rendah, yaitu Daya Tarik. Orang lain akan melihat kita sebagai pria yang menarik dan berbeda dari pria-pria lainnya. Nah! Gimana cara meningkatkan kharisma? Saya ada tiga tips nih:

  1. Teman. Semakin banyak teman yang kita miliki, orang akan menilai kita sebagai pria yang menarik. Jadi, kamu harus menambahkan lingkaran pertemanan, caranya bisa join komunitas hobby, ikut organisasi, atau berpartisipasi dalam event-event musik di sekitarmu.
  2. Cara berbicara. Gak mungkin kan kamu adalah pria yang menarik kalo cara berbicara kamu masih belepotan, lembek, dan gak tegas. Ini agak susah emang memperbaikinya karena kita gak tau cara berbicara kita jelek atau gak, jadi solusinya ya tanya aja ke temen kamu, minta saran dari mereka.
  3. Penampilan Fisik. Jos! Kalo kita jelek, siapa sih yang suka? Haha..Coba benerin muka dengan rajin perawatan, benerin badan dengan fitness, ke salon biar rambutnya makin oke, dan yang terpenting adalah fashion! Sekarang perempuan udah gak ngeliat kegantengan bro, tapi kekerenan! Cowok jelek tapi keren itu lebih disukain daripada cowok ganteng tapi pake celananya masih kegedean. So, it's time for shopping! Kalo misalnya kamu sibuk, masih ada toko online kan yang nyedian fashion-fashion keren dan murah kayak Zalora.
Leadership
Ya emang sih gak semua orang punya kesempatan memimpin sebuah organisasi atau perusahaan. Tapi itu bukan berarti kita gak bisa nunjukin cara mimpin kita, kan? 
  1. Cara memimpin. Style kita menyuruh orang otoriter atau tidak, reaksi orang yang kita pimpin tetap senang atau gak saat kita kasih order. Disitu lah cara memimpin seorang pria terlihat. Kalo dia ngelakuin dengan senang hati dan bahagia, itu tandanya kamu udah benar dalam memimpin. Simple.
  2. Kedudukan. Oh men ini berat. Kedudukan atau status social atau pengakuan masyarakat adalah parameter yang mudah banget buat menilai kualitas pria. Apakah kamu udah punya ini? Saya yakin cuma beberapa orang yang jawab IYA, but don't worry guys, meskipun kamu gak punya kedudukan yang tinggi di masyarakat, tapi kamu tetep bisa nunjukin point nomor 1 di bagian leadership ini, kan? Menurut saya ini juga hanya sebagai nilai tambah.
Intelligence
Yoi! Pria berkualitas itu pasti pintar! Umm..Debatable sih haha..Tapi saya tetep yakin kecerdasan itu hal wajib buat semua pria. Ya ya ya I know! I know! Emang gak semua orang IQ ditas rata-rata, tapi bukan kecerdasan itu yang dimaksud, sob. Sebodoh-bodohnya kita, kita masih bisa baca kan? Nah! Banyak baca, tingkatin pengetahuan, itu juga nilai tambah buat kualitas kita.
  1. Pola Pikir. Dengan banyak membaca tadi, kamu bisa mengembangkan pola pikir jadi lebih baik, lebih dewasa, dan lebih terbuka. Ya benar! Pola pikir, ide, dan inspirasi saya menulis ini juga karena saya banyak baca dari sumber yang lain dan saya olah menjadi bahasa sendiri.
  2. Prestasi. Ini sama seperti bagian Leadership yang point 2, gak semua orang punya kualitas ini dan memang ini hanyalah nilai tambah. Misalnya kamu pernah mimpin sebuah EO terkeren di kampus kamu, mimpin sebuah riset penelitiaan, atau punya bisnis yang udah sukses banget.
Well, banyak sih emang alat ukur kualitas seorang pria, tapi menurut saya 3 ini lah yang paling kritikal karena sangat mudah dinilai oleh orang lain. Now you know it. Let's be a better man!

Minggu, 23 Maret 2014

Me, 4 Years Ago

source: theyesterdaycafe.com

Malam ini disaat saya udah pengen menikmati empuknya tubuh sang kekasih yang bernama Kasur, saya berniat nyiap2in barang buat firstday besok, eh gak sengaja nemu binder tahun 2010, waktu itu saya masih jadi koordinator sebuah divisi dari organisasi kebudayaan jepang.

Disana ada beberapa tulisan, salah satunya dalam bentuk mindmap yg terdiri dari beberapa divisi dan jobsdesc nya masing-masing, saya (ternyata) mempelajarinya super detail. Lalu ada juga sebuah note yang berjudul "Radiv Pertamax", yang artinya Rapat Divisi Pertama. Disana saya memberi PJ pada setiap jobdesc, (lagi-lagi) semuanya super detail.

Ada juga agenda bulan mei 2010, disana saya bersama teman-teman ingin membuat openmind sehingga bocah-bocah kampus jadi kenal sama komunitas saya, dan (lagi-lagi (lagi-lagi)) semuanya super detail, dari poster-susunan acara-PJ masing2 jobdesc-duit-perkap-perform-layout acara-guest star saya siapkan dan pelajarin.

Bukan maksud apa-apa saya menulis postingan ini, saya cuma pengen nostalgia aja. Saya dulu ternyata super otoriter, ribet, kaku, terlalu sistematis dan prosedural. Well, ada baiknya sih tapi ada buruknya juga. Itu juga membuat saya jadi kagum sama diri saya sendiri, saya orangnya bebas-liar-adventure abis-suka tantangan-suka cari masalah.

Saya jadi kangen aja, mungkin sekarang udah jauh lebih baik dari segi emosi, tapi saya gak akan bisa ngelakuin hal-hal gila dan bodoh yang sering saya lakuin dulu. Thanks masa lalu saya yang gokil. You rock, bro!

Rabu, 12 Maret 2014

Mencoba Hal Baru



source: www.searchquotes.com

Dari awal saya kuliah sampe udah lulus gini (gokil gue bisa lulus), saya sering banget nyoba hal baru yg belom pernah saya lakuin. Baru nya gak mesti super baru sih. Orang lain mungkin aja udah ngelakuin tapi karena saya belom, jadi itu saya anggap baru :3

Dalam hal bisnis, saya sudah sering abis riset di bisnis online, tiap bulan bikin web domain TLD, abis ratusan ribu udah pasti. Facebook ads juga udah jutaan mungkin kalo ditotal. Hasilnya? Oh jelas..gagal :3

Di dunia organisasi juga saya sering nyobain hal baru, terutama ketika saya jadi pemimpin. Mimpin rapat dengan super informal. Pemimpin yang ngebuat bawahannya jadi pemimpin semua. Ngebuat kepanitian dan komunitas baru. Ada juga riset terbesar saya tapi kurang layak kalo ditulis di publik, rada nyinggung SARA soalnya haha..Hasilnya? Kalo ini better nih, meskipun banyak banget yg gagal tapi ada juga beberapa hal yang berhasil dan membuat jadi lebih berpengalaman.

Dunia romansa juga banyak nih riset saya tapi kayaknya bakal super panjang kalo ditulis disini, kapan-kapan aja deh ya.

Intinya, mencoba hal baru dan terkadang ngulangin kesalahan yang sama itu udah jadi hidup saya. Hampir 70% nya gagal semua tapi saya gak akan nyerah. Semakin sering saya gagal justru ngebuat saya makin bahagia. Karena menurut saya gagal itu juga keberhasilan, at least berhasil menemukan cara untuk gagal :3

So guys, why don't you try something new in your life? Being a "failure" man isn't as bad as you think.

Senin, 06 September 2010

Awak di Kapal Besar, Nahkoda di Kapal Kecil


Istilah itu pasti sudah sering anda dengar di kalangan mahasiswa jaman sekarang. Awak di kapal besar, artinya menjadi karyawan di perusahaan besar. Nahkoda di kapal kecil, artinya menjadi boss di perusahaan kecil.

Kebanyakan mahasiswa sombong jaman sekarang selalu berkata lebih baik jadi nahkoda di kapal kecil daripada jadi awak di kapal besar. Padahal semua itu ada algoritmanya. Algoritma? Ya! Untuk menjadi karyawan, boss, perusahaan besar, dan perusahaan kecil semua itu butuh PROSES!

Seandainya pilihan tadi jatuh pada saya, maka saya akan menjawab, "Nahkoda di Kapal Besar!". Kalau bisa jadi boss di perusahaan besar, kenapa mau di perusahaan kecil? Tapi..Dengan algoritma sebagai berikut:

1. Awak di Kapal Kecil
Di dalam fase ini, anda dapat belajar banyak soft skill dalam sebuah organisasi dan juga sedikit belajar mengenai sistem yang digunakan organisasi tersebut agar anda dapat menciptakan sistem sendiri.

2. Awak di Kapal Besar
Di dalam fase, masih seperti fase yang pertama namun anda dapat belajar mengenai sistem yang lebih canggih agar dapat membuat sistem yang lebih baik lagi.

3. Nahkoda di Kapal Kecil
Fase pembelajaran sudah selesai, saatnya gunakan sistem yang telah anda rancang sebelumnya. Fase ini juga bisa disebut sebagai fase percobaan anda, anda dapat mencoba sistem-sistem pilihan anda sampai anda mendapatkan gaya anda sendiri.

4. Nahkoda di Kapal Besar
Setelah anda menemukan sistem yang paling pas dan anda juga sudah memiliki tingkat kepemimpinan yang tinggi, baru lah anda berpeluang menjadi nahkoda di kapal besar ini.

Jadi, kesimpulannya adalah tidak ada yang harus dipilih dari judul posting ini, karena tujuan utamanya hanyalah satu, yaitu menjadi nahkoda di kapal besar. Yang lainnya hanyalah proses untuk menggapai tujuan anda.

Kamis, 01 April 2010

Kisah Pemimpin yang Sering Gagal


Kalo denger kata-kata itu membuat gue jadi teringat masa lalu, gue sering banget dipilih jadi pemimpin suatu organsasi, waktu SMA gue dipilih jadi ketua MPK dan ketua apresiasi seni islam.

Walaupun sering dipilih tapi jujur gue sering gagal dalam memimpin, mungkin karena gue mental bawahan atau emang gue gak bakat jadi pemimpin. Tingkat kepemimpinan yang sangat rendah yang gue miliki ngebuat team yang gue buat selalu ancur.

Bukan cuma organisasi, band yang sering gue bentuk waktu SMA gak pernah maju, itu sampai sekarang lho ! Gue punya band tapi gak pernah rutin ngeband, cuma gitu-gitu aja, gue bener-bener gak dihargai. Entah karena gue bego, temen-temen gue bego, atau emang belum dapet jodohnya ya?

Gue juga pernah jualan di kampus berenam sama orang yang baru gue kenal. Jujur disitu gue ngerasa mereka tuh gak ada yang serius atau emang gue yang gak bisa mimpin ya? Gue dikasih modal lima ratus ribu dan jadinya malah rugi seratus ribu.

Akhirnya gue coba ikut kepanitiaan festival musik jepang di kampus gue, disana gue banyak dapet yang namanya soft skill dalam berkomunikasi. Gimana caranya nyenengin atasan kita, gimana caranya bekerja dengan baik, gimana caranya ngatur waktu, pokoknya banyak banget gue dapet. Alhamdulillah acaranya berjalan lancar.

Pengetahuan gue dalam menjadi bawahan pun mulai bertambah, sekarang gue jadi keranjingan sama yang namanya organisasi dan kuliah pun mulai terlupakan. Gue mencoba untuk jadi pengurus komunitas jepang dan tiba-tiba gue terpilih jadi koordinator salah satu divisi di komunitas tersebut. Sungguh cobaan yang sangat berat.

Jujur gue takut kejadian yang sama bakal terulang lagi, team yang gue pimpin bakal gak kompak, ancur, dan bubar deh semua. Tapi kalo gue gak berubah, selamanya bakal seperti ini.

Yang gue ngerti cuma bagaimana ngebuat prokernya tapi percuma kalo proker itu gak ada yang jalan karena gue gak bisa mimpin. Yeap..Dengan pengalaman-pengalaman gagal yang gue punya, gue yakin setelah ini kutukan itu segera berakhir dan organisasi yang gerakkin bisa berjalan dengan baik.







Selasa, 30 Maret 2010

Apa itu Amanah?


Beberapa waktu lalu gue ikut rekruitasi jadi pengurus organisasi pecinta budaya jepang di kampus gue. Mulai dari tahap wawancara, perkenalan, outbond, upgrading, dan pelantikan udah gue lewatin. Semua gue lakuin dengan cukup berambisi karena gue berambisi banget buat ngenalin musik jepang ke kampus gue.

Usaha gue pun gak sia-sia, akhirnya gue diterima jadi pengurus di organisasi tersebut. Dan yang mengejutkannya, gue dipilih jadi koordinator divisi culture. Divisi yang paling gue inginkan karena disana ada honnoukai (musik jepang), aliran musik favorit gue.

Mungkin awalnya gue ngerasa seneng banget karena gue dipilih jadi koordinator tapi gue sadar. Semakin tinggi jabatan maka semakin besar tanggung-jawab gue atas amanah yang diberikan itu. Gak sepantasnya gue seneng karena amanah adalah sebuah cobaan.

Cobaan baru aja datang menghampiri gue, gue harus bisa menghadapinya, gue harus bisa ngejalanin amanah yang diberikan.

Intinya, jabatan adalah amanah..amanah adalah cobaan..jadi jabatan adalah sebuah cobaan, bukan rezeki. Bukan uang atau imbalan yang besar dari jabatan itu, tapi bagaimana kita menjalankan amanah itu.